Sound Systems

Sound Systems

Kemajuan teknologi dikala ini telah sedemikian cepat terlebih kemajuan dibidang elektronik dan sound system atau perangkat tata bunyi, sehingga boleh dikatakan bahwa kini disetiap rumah senantiasa terdapat seperangkat sound system atau setidaknya terdapat sebuah radio simpel. Melewati tulisan ini akan dibeberkan secara simpel dan gamblang mengenai apa sesungguhnya Sound System itu. Untuk mengawalinya kita perlu terpenting dulu mengetahui mengenai bunyi (sound).

Baca : Sewa sound system

Bunyi yaitu getaran mulekul2 udara yang diterima dan bisa dideteksi oleh alat pendengar manusia. Istilah yang populer diaplikasikan untuk getaran molekul udara yang bisa didengar manusia yaitu Frekwensi Audio. Menurut hasil percobaan2 yang dilaksanakan di Lab diperoleh inti sari bahwa getaran2 yang bisa didengar oleh alat pendengar manusia yaitu getaran mulai dari 20 kali dalam sedetik atau lebih diketahui dengan istilah 20 Hertz atau disingkat 20 Hz sampai getaran 20.000 kali dalam sedetik atau 20 Kilo Hertz (20 KHz). Dibawah frekwensi 20Hz ataupun diatas frekwensi 20KHz tentunya masih banyak sekali frekwensi2 yang lain namun getaran ini telah tak bisa lagi dideteksi (terdengar) oleh alat pendengar. Jadi umpamanya kini ini disekitar kita sedang ada gelombang getaran 30KHz yang terpancar, karenanya sedangkan getaran itu ada dan bisa dideteksi lewat instrumen ukur tertentu namun pada kenyataannya alat pendengar kita merasa seperti tak ada apa2 yang terdeteksi atau tak ada bunyi yang terdengar sama sekali.

Mengenai tempat frekwensi getaran yang masih bisa didengar oleh alat pendengar manusia, tentunya hal ini tak bersifat totaliter terjadi pada tiap-tiap orang sebab pada kenyataannya tak tiap-tiap orang bisa memperdengarkan Frekwensi Audio secara seutuhnya dari 20Hz-20KHz. Kisaran (barometer) ini (20Hz-20KHz) diambil untuk dari frekwensi terendah hingga tertinggi pada lazimnya (rata2) yang masih bisa diperdengarkan oleh seseorang yang masih mempunyai alat pendengaran yang amat bagus. Pada kenyataannya sensitifitas tiap-tiap orang ber-beda2. Ada yang cuma dapat mendengar getaran bunyi 50Hz-13KHz saja atau 30Hz-17KHz saja, dsb, malahan penulis sempat menjumpai seseorang yang cakap mendengar hingga dengan krekwensi 22KHz. Hal ini penulis jumpai pada dikala melaksanakan uji pendengaran terhadap sebuah kelas Tehnik Audio yang penulis sedang bina.

Pada dikala seseorang menjelang umur yang cukup lanjut karenanya kesanggupan mendengarnya akan berkurang dan terus cenderung berkurang beriringan dengan makin bertambahnya umur. Itulah sebabnya kadang2 kita memperhatikan seorang kakek atau nenek yang sedang mencondongkan kupingnya untuk bisa memperdengarkan seorang cucunya yang sedang berdialog kepadanya.

Tiap juga bisa berkurang dengan kencang sebelum seseorang berusia lanjut sekiranya seseorang terbiasa untuk memperdengarkan bunyi2an yang amat keras dalam jangka waktu waktu yang cukup lama (ber-bulan2 atau ber-tahun2). Itulah sebabnya pula kita memperhatikan para petugas dilapangan udara yang bertugas lantas dekat dengan suara deru mesin pesawat jet yang menggelegar dan amat keras senantiasa menerapkan penutup alat pendengar (semacam Head Phone) untuk melindungi alat pendengar mereka dari kerusakan maupun penurunan sensitifitas sebelum waktunya.

Terkait : Pasang penangkal petir

Bunyi bunyi apa saja yang kita dengar yaitu berupa satu frekwensi bunyi atau kumpulan sebagian frewensi bunyi yang berbunyi bersama-sama. Adapun hal2 yang membikin kita bisa membedakan jenis2 bunyi yang satu dengan yang lain umpamanya bunyi terompet dengan bunyi gitar yaitu Warna Bunyi atau disebut Timbre. Dalam dunia elektronik terdapat alat yang bisa menolong untuk memperhatikan beda format bunyi (warna bunyi), alat itu disebut Oscilloscope. Bisa Oscilloscope seringkali amat mirip dengan alat untuk memperhatikan denyut jantung yang kita jumpai dirumah sakit maupun di daerah praktek dokter jantung.

Sound System pada dasarnya yaitu alat untuk mengelola, memperkuat/memperbesar, mengendalikan, merekam, mengucapkan kembali, dsb Frekwensi Audio (20Hz-20KHz). Jadi Sound System sesungguhnya cuma yaitu alat yang berprofesi dibagian yang amat kecil dari “segala” frekwensi2 yang ada. Bayangkan bahwa frekwensi memiliki batas dari nol Hz (membisu) hingga tidak terhingga Hz. Frekwensi radio FM umpamanya berkisaran pada 100.000.000Hz (100.000KHz). Gelombang Mikro atau lebih populer dengan nama Microwaves memiliki kisaran frekwensi 300.000.000 Hz atau 3 juta Hz atau 300MHz hingga 300.000.000.000 Hz atau 300 GHz (baca: Giga Hertz), diatasnya masih ada lagi frekwensi2 yang lain yang tidak terbatas tingginya selama manusia bisa menemukan atau membikin alat yang dapat menjangkaunya. Komputerisasi kita bayangkan alangkah kecilnya komponen frekwensi yang dikelola oleh Sound System diperbandingkan dengan “luasnya” dan “tingginya” frekwensi yang tak ada batasnya itu.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan penemuan2 yang ada karenanya dikala ini telah banyak sekali variasi perangkat Sound System, mulai dari Microphone, Mixer, Amplifier “lazim”, Amplifier khusus untuk Gitar Elektrik, Bass Elektrik, Keyboard, Tape recorder, CD player, Loudspeaker, dsb hingga dengan perangkat Sound System yang canggih berupa Delay Komputerisasi, Mixer Komputerisasi, Loudspeaker Management, Komputerisasi Sound Processor, dsb. Memang perkembangan Sound System dikala ini hampir semuanya mengarah ke Komputerisasi, sebab dengan system komputerisasi akan bisa dilaksanakan banyak hal yang terkait dengan pengelolaan bunyi, umpamanya: untuk merubah bunyi, untuk mengendalikan, merekam, men-delay, dsb

Dalam pembahasan kita kali ini, kami akan mengendalikan dengan membeberkan mengenai Amplifier dan Loudspeaker saja.

Amplifier

Amplifier pada dasarnya yaitu alat yang berfungsi untuk memperkuat sinyal bunyi dari sumber sinyal yang kecil umpamanya : Microphone, Gitar, Bass, Keyboard, CD player, dsb menjadi lebih kuat sehingga bisa didengarkan lewat Loudspeaker yang ada. Melewati sebuah Amplifier sesorang bisa berdialog dan didengar oleh malahan ribuan orang. Biasa dalam konser2 musik, ratusan ribu orang bisa merasakan permainan musik yang dimainkan oleh pemusik serta lagu2 yang didendangkan oleh penyanyi.

Amplifier “Lazim”

Kami menerapkan istilah Amplifier “lazim” cuma untuk membuktikan bahwa amplifier ini pada lazimnya cuma akan menguatkan dan mengucapkan bunyi apa saja yang dimasukkan kepadanya “tanpa” mengubahnya. Amplifier “lazim” ini antara lain yaitu Power Amplifier yang banyak diaplikasikan bagus didalam perangkat audio simpel yang terdapat di rumah2 kita seperti Tape Recorder, Compo, CD player, Speaker Aktif, Home Theater dsb hingga dengan Power Amplifier besar yang diaplikasikan pada konser2 musik besar.

Amplifier “Maka”

Kami menyebutnya sebagai Amplifier “khusus” sebab amplifier ini tak cuma sekadar menguatkan bunyi saja namun juga ikut serta juga memberikan “perubahan” pada sinyal bunyi yang dimasukkan padanya.

Banyak orang tak paham bahwa amplifier Gitar dan Bass yaitu yaitu Amplifier Maka. Hal ini dikarenakan bunyi gitar dan bass yang orisinil tak dikuatkan dengan apa adanya seperti dilaksanakan oleh amplifier2 yang kami sebutkan sebelumnya (amplifier lazim). Pada amplifier Gitar Elektrik dan Bass Elektrik dilaksanakan pengaturan2 khusus pada frekwensi2nya sebab sekiranya hal ini tak dilaksanakan karenanya bunyi yang terdengar akan terkesan kurang nikmat ditelinga kita, namun dengan pengendalian frekwensi2 tertentu akan diperoleh bunyi Gitar dan Bass yang nikmat dan pass di alat pendengar kita. Itulah sebabnya sekiranya kita dengan asal-asalan saja menerapkan sebuah Amplifier Lazim untuk menguatkan bunyi gitar atau bass elektrik karenanya bunyi yang terpancar dari loudspeaker akan terasa tak nikmat malahan kadang2 menyakitkan alat pendengar.

Baca juga  : Alat penangkal petir

Bila dari itu pabrik2 pembuat amplifier gitar dan bass senantiasa berlomba2 untuk melaksanakan riset supaya menerima pengendalian dan pengubahan yang bagus sehingga bisa dihasilkam bunyi yang amat nikmat didengar dan kadang2 terkesan amat fantastis. Berbincang-bincang alasan ini pula karenanya kita kerap kali memperhatikan pada pentas2 musik profesional, senantiasa dilaksanakan tehnik “Micking” atau “menodongkan” sebuah mic lantas pada loudspeaker amplifier Gitar dan Bass. Hal ini yaitu bertujuan untuk menerima karakter khas yang dikeluarkan oleh kombinasi perubahan/pengendalian secara elektronik dan karakter dari loudspeaker amplifier tsb.

Untuk amplifier Keyboard lazimnya tak dilaksanakan perubahan2, hal ini sebab lazimnya pada keyboard2 tsb sudah dibuat suara2 yang amat bagus yang tak lagi perlu untuk dikoreksi lagi. Biasa pada sebagian keyboard sudah disediakan efek2 tertentu jika dibutuhkan seperti umpamanya : Reverb, Echo, Chorus, dsb.

Dari penjelasan diatas kita akan paham bahwa amplifier gitar dan bass elektrik memiliki kharakter khusus yang berbeda dengan amplifier lazim dan amplifier keyboard. Menurut sempat, karenanya anda bisa melaksanakan suatu tes simpel merupakan dengan mengaitkan sebuah keyboard ke sebuah amplifier gitar elektrik dan memainkannya, karenanya anda akan paham mengenai penjelasan tadi diatas. Hal ini tentu saja tak menjadi problem pada dikala kita menghadapi situasi2 yang terpaksa umpamanya tak tersedia ampli keyboard sehingga asalkan dibuat bunyi yang keras “sudahlah cukup” ketimbang “tak terdengar” sama sekali…..

Loudspeaker

Misalnya seputar loudspeaker jika yang dimaksud yaitu bukan diperuntukkan untuk amplifier gitar dan bass elektrik, karenanya amat dibutuhkan syarat2 yang patut dipenuhi untuk bisa dikatakan bahwa loudspeaker itu berkwalitas tinggi. Diantaranya prasyarat yang patut dipenuhi yaitu loudspeaker itu patut bisa mengucapkan bunyi apa adanya (tak mengubah) layak dengan sinyal bunyi yang dikaitkan kepadanya.

Menurut hal ini tak bisa dilaksanakan oleh sebuah loadspeaker, karenanya bunyi yang terdengar akan terkesan kurang bagus dan malahan kadang2 berubah dari warna bunyi aslinya. Hal ini amat tak diharapkan, bayangkan seseorang penyanyi yang kita sudah ketahui warna bunyi merdunya, tiba2 saat rekamannya didengarkan lewat sebuah loadspeaker yang amat buruk kualitasnya karenanya terdengar seperti sosok penyanyi yang lain yang kita tak pernah ketahui warna suaranya.

Dalam prakteknya sebuah loudspeaker tak akan cakap untuk mengucapkan segala zona frekwensi audio (20Hz-20KHz). Menurut bahan, format dan ukurannya karenanya sebuah loudspeaker bisa mengucapkan frekwensi diarea tertentu saja. Setidaknya hasil optimal dari sebuah single loudspeaker terbaik dikala ini masih belum cakap meng-cover segala frekwensi audio yang ada, namun telah cakap mengucapkan beberapa besar darinya. Mengapa sebuah loudspeaker “Full Range” yang bagus bisa mengucapkan bunyi sekitar 100Hz hingga dengan 12KHz.

Untuk menerima hasil bunyi yang bagus untuk segala zona frekwensi audio, setidaknya dibutuhkan dua variasi loudspeaker. Pertama yaitu loudspeaker untuk mengucapkan frekwensi rendah (bass) sampai menengah (middle) dan yang kedua yaitu loudspeaker untuk mengucapkan frekwensi menengah sampai tinggi (treble). Mengapa produk RCH type ECA15 dan ECA15P, produk ini memakai system 2 speaker atau 2 way system. Untuk bisa mewujudkan bunyi frekwensi rendah (bass) yang bagus karenanya sebuah loudspeaker perlu dijadikan dari bahan yang cukup berat dan diameter besar. untuk mengucapkan frekwensi tinggi (treble) yang bagus diperlukan bahan yang ringan dan tipis.

Loudspeaker penyuara frekwensi rendah hingga tengah populer disebut Woofer dan loudspeaker penyuara frekwensi tengah hingga tinggi disebut Tweeter. Dengan mengkombinasikan kedua loudspeaker tsb dengan sistem yang bagus dan benar karenanya dapatlah di-cover segala zona frekwensi audio 20Hz-20KHz. dikatakan bahwa pengombinasian kedua loudspeaker ini patut dengan sistem yang benar, sebab ada satu hal lagi yang amat penting merupakan “kerataan” kuatnya bunyi yang dibuat oleh masing2 loudspeaker tsb. kerataan kuatnya bunyi ini tak sama karenanya bunyi yang kita dengar akan juga akan buruk kualitasnya. Untuk itu dibutuhkan alat yang bernama Crossover yang akan mengendalikan batas frekwensi yang akan diucapkan oleh masing2 loudspeaker tsb.

This entry was posted in TEKNOLOGI. Bookmark the permalink.