Konsumsi Cat Nasional Diproyeksi Naik

Konsumsi Cat Nasional Diproyeksi Naik
Konsumsi cat nasional diproyeksi akan menempuh 740.142 ton pada tahun ini, atau naik dari tahun lalu yang sebesar 688.863 ton dan 646.700 pada 2009. Berdasarkan Ketua Divisi Wood Coating Asosiasi Cat Indonesia Kris Rianto Adidarma, tingkat konsumsi pada tahun ini masih akan didominasi oleh cat tembok cair (wall paint water) yang diproyeksi akan menempuh 509.377 ton. Padahal pada tahun lalu cuma sebesar 471.590 ton dan 444.477 pada 2009.

Baca juga : Harga cat pelapis anti bocor

Lebih lanjut Kris mengatakan, penjualan cat di pasar dalam negeri pada tahun lalu yakni sebesar 690 juta kilogram (kg) atau seimbang dengan Rp20 triliun. “Untuk porsi ekspor masih betul-betul kecil. Sedangakan porsi impor yaitu kaprah-kaprah Rp1 triliun,” kata Kris di Jakarta, Pekan (30/1/2011). Berdasarkan Kris, penjualan di pasar dalam negeri yang terbesar yakni di pulau Jawa. Sementara itu, Kris menyatakan, jumlah kapasitas produksi cat nasional pada 2010 yakni sekira 860 juta kg, dengan utilisasi kurang lebih dari 80 persen.

Kris menuturkan, peningkatan konsumsi dan penjualan disupport oleh pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik dan juga investasi baru di industri cat. “Investasi baru yakni yang masih berputar di pembesaran kapasitas oleh produsen-produsen cat lokal,” sebut Kris. Di sisi lain, Kris mengatakan, Tata Menteri Keuangan (PMK) No 241/2010 perihal Penetapan Cara Kelompok Barang dan Pembebanan Biaya Bea Masuk (BM) Atas Barang Impor, berakibat buruk kepada margin dan produksi industri cat nasional, sebab beberapa besar bahan baku cat masih diimpor.

“Sekiranya pemerintah tak memiliki arahan yang terang untuk produsen kimia terlebih cat, karenanya margin kami akan kian tergerus. Memang kami memandang bahwa ada keperluan dari pemerintahan untuk memproteksi pengusaha bahan baku nasional, namun banyak kasus bahwa produksi bahan baku nasional tak mencukupi untuk industri hilir,” kata Kris. Kecuali itu, Kris menambahkan, ASEAN-China Bayaran Trade Agreement (ACFTA) yang mulai diimplementasikan pada permulaan tahun lalu juga menekan kekuatan saing industri cat nasional sebab tak dapat berkompetisi dengan China.

“Sebab bahan baku yang digunakan produsen nasional lebih mahal sebab muatan biaya bea masuk, meski produk jadi impor tak dikenakan biaya. Yang lebih membahayakan lagi yakni China kini mengaplikasikan pajak ekspor di negaranya untuk sebagian bahan baku sehingga kami tak dapat membeli bahan baku murah dari China padahal di kitanya telah tak ada bea masuk,” tandas Kris.

 

 

Artikel terkait : harga pelapis anti bocor

This entry was posted in Property. Bookmark the permalink.