Wakil Ketum MPR RI: Pendidikan dan Kemisikan Masih Masalah Utama Indonesia

sekolah internasional di jakarta

Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menyuarakan bahwa pengajaran dan kemiskinan masih menjadi situasi sulit bagi bangsa dan negara Indonesia, dia juga mengibaratkan keduanya sebagai ‘saudara kandung’ yang tak bisa dipisahkan.

“Soal-soal seperti ini memang benar-benar mengkhawatirkan kita seluruh. Karenanya dari itu aku pribadi dan sebagai pimpinan MPR juga Wakil Rakyat benar-benar mensupport beraneka upaya antara lain karya-karya tulis yang mengangkat situasi sulit kongkrit terjadi di masyarakat seperti kemiskinan dan terbatasnya rakyat yang merasakan pengajaran berkwalitas,” kata Wakil Ketua MPR Mahyudin dalam siaran pers di Jakarta, Kamis.

Baca Juga: international school jakarta

Pernyataan itu dia sampaikan dikala menghadiri sebuah acara pembicaraan ‘Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat’ yang membahas buku ‘Pengantin Orderan’ karya dari Mya Ye di Perpustakaan Setjen MPR RI, Gedung Nusantara IV, Rumit MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta.

Mahyudin juga mengatakan bahwa apabila saja pengajaran dan kemiskinan tak lagi menjadi situasi sulit masyarakat Indonesia, karenanya tak akan terdengar lagi rakyat Indonesia berprofesi kasar di negara orang malah menerima perlakuan tak sesuai serta tak akan lagi terdengar adanya ‘kawin kontrak’ atau ‘pengantin orderan’ yang dipicu oleh desakan ekonomi.

Ungkapan bahwa pengajaran dan kemiskinan bagai saudara kandung, Mahyudin akui terbersit sesudah dia membaca buku karya Mya Ye hal yang demikian yang memaparkan secara terang dan tersirat seputar potret buram fenomena yang dialami beberapa rakyat Indonesia itu.

“Mulanya aku tak mengerti apa yang ingin diperkenalkan buku hal yang demikian. Tapi sesudah membacanya, buku ini sarat akan pesan adab, sosial, kesetaraan gender dan khususnya pergumulan adab yang berawal dari informasi kemiskinan di tengah masyarakat kita,” katanya.

Mahyudin memaparkan bahwa buku hal yang demikian menyebutkan seorang perempuan berpindidikan minim dengan berlatar belakang di Singkawang yang memperhatikan satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan yaitu dengan menjadi seorang ‘pengantin orderan’.

Melainkan, dia menegaskan bahwa fenomena itu bukanlah kultur tempat hal yang demikian tapi timbul sebab kemiskinan dan minimnya pengajaran malah terjadi di tempat-tempat serta negara-negara berkembang lainnya, karena dua situasi sulit hal yang demikian benar-benar dilematis bagi negara-negara berkembang.

Pada intinya, lanjut Mahyudin, rakyat Indonesia mesti gigih untuk mengerjakan sejumlah upaya mencerdaskan bangsa dan terus memperjuangkan keadilan demi mendapatkan pengajaran dan pemerintah mesti menciptakan seluruh itu sebab pengajaran bagus akan berikan kesanggupan berkembang dalam ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan dan menanamkan kesadaran martabat manusia untuk menggapai masa depan.

“Kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat atau tempat mesti diminimalkan malah dihilangkan dengan menciptakan Keadilan Sosial Bagi Segala Rakyat Indonesia,” tandasnya.

 

Baca Juga: sekolah internasional di jakarta

This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.